Rabu, 01 Mei 2013

Fight!!!

pict by google


Kebayang kalo yang jadi model adalah seorang laki-laki. Dengan bulu dada dan bulu kaki yang lebat. Pake kaos ketat serta hot pants. Pasti para fotografer disitu geli. Dan akan ada permainan “Siapa yang Berani Cukur Bulu Dia Duluan” Teriakan yang keluar bukan suit-suit tapi “Woi cukuran. cukuran mana cukuran?”

Purwokerto kan kalo siang hari itu kaya oven mau meleduk. Panase is not public, ora umum, panas banget. Jam 10 aja udah kaya masuk oven. Apalagi jam 12 siang, mendekati padang mahsyar *lebai-lebai

Jam makan siang, saya dengan seorang teman berada di lantai 2 sebuah kedai mi di daerah Kebondalem. Nah, kita ngeliat ada dua orang mba-mba berpakaian mini dress tanpa lengan. Mini dressnya itu warna abu gelap dengan model berpita di bagian pinggangnya. Higheels mereka pun sama bentuk dan warnanya.  Kedua mbak-mbak itu, dengan rambut panjang keritingnya, full make up, berjalan di tengah teriknya sinar matahari.

Buseeeeeet kaga mateng tu kulit mba. Saya yang make kerudung sama terusan baju lengen panjang aja tetep ngerasain panas matahari sampe kulit.

Kasian deh liatnya. Kayanya mereka SPG rokok. Jalan gitu di area pertokoan. Satu persatu nawarin rokok ke toko-toko yang ada disitu. Mbak-mbak yang satunya kayanya kakinya udah sakit gitu. Jalannya terseok-seok. Sementara temennya dengan setia berjalan pelan di depannya. Sambil sesekali memapah.


balik si embak2 dua itu harus coba ini :D

Aihhh... panjang juga tulisan saya ya. I'm not good in speech... I'll try in writing...

Actually, saya ga suka ngomong. Bingung. Berasa otak selalu maju duluan daripada mulut. Dan mulut serasa telat sepersekian detik sama kinerja otak. Jadinya gagap :D *beda cerita kalo diajak ngobrol
Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengintimidasi atau menyinggung orang. Hanya sarana memindahkan isi diary ke bentuk digital *krik-krik

Tepok Nyamuk, Pocong Kabooor

Ijinkan saya memulai hari ini dengan salam, “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”. Jawab dong. InsyaAlloh dapet pahala :D

Saya melihat fenomena dimana kita pernah keadaan menghiperboliskan setiap yang kita alami. Dan proses ini hanya dialami manusia Indonesia. Proses tersebut adalah menjadi ALAY. *bingung cari istilah, comot bae yang ada :p
"Huh cepat atau lambat aku pasti mneguasai hartanya" _photo by google

Ada masa dimana, kita (dalam hal ini saya) ngerasa jadi anaknya Lely Sagita dalam kehidupan sehari-hari.  You know Lely sagita? itu emak-emak galak, di sinetron Tersanjung sama Ratapan Anak Tiri. Matanya mendelik terus kaya abis nelen kucing kurap.

Oke, oke selow aja men. Ga usah pake otot gitu dibilang anak tiri. *diiih sendiri yang nulis

Jadi begini ya. Alhamdulillah saya bukan anak tiri. Saya anak kandung dari seorang bapak unyu dan seorang ibu cakep. Kalo dibilang si saya ini Indonesia banget. Bapak Wates, Jogja en the ibu Purwokerto. Tapi temen saya bilang saya blasteran oncom ama bengkoang jadi somplak. *menjurus ke miring

But, that’s ok. It’s me and I love cireng. Ada keadaan, dimana tanpa sebab musabab saya merasa sendiri, minder dan ujung-ujungnya menyalahkan orang lain. Merasa didzolimi oleh keadaan. *astaghfirulloh maafkan saya menyalahkan keadaan ya Alloh 

Gini, terkadang keluar perasaan, “kayanya aku udah ngelakuin bener tapi kok dibilang salah?”. atau “Ortu kok gitu ya. Lebih sayang adik daripada aku.” Atau “kok si ini disenyumin jutek banget. udah untung disenyumin bukan ditumbalin ke bencong.” Atau “ni ujian gampang banget soalnya. gampang buat dirobek.”

Dan yang lebih heboh ketika punya pacar. Misalnya gini, yang baru jadian beberapa bulan, atau mau setahun atau lebih lama lagi. Dari waktu-waktu itu yang tumbuh adalah rasa cinta >o<  dan ke-ALAY-an.

Rasa cinta ya gitulah. Baca aja Khalil Gibran atau novel cinta-cintaan. Nah ke-ALAY-an ini yang menarik. Misal gini “iiiih BBM aku cuma di read doang :( .” Atau “iiiih sms aku ga dibales.” Bisa juga “kok ditelfon malah mati, jangan2 dia lagi ngelaba.”

Atau gini “sibuk banget si? sampe2 ga bisa nanya apa barang sebentar aja ama aku. kan BBM/ sms cuma butuh waktu bentar. aku mikirin kamu tapi kamu gitu. ga pernah mikirin aku.”

Bisa lagi, “mending capek kerja daripada capek mikirin kamu”. Kalo gitu brarti mending jadi buruh daripada patah hati *siap demo


Hal-hal tersebut bisa dibilang suudzon dalam berhubungan. Jangan dong. Mungkin si pacar lagi mau ujian, lagi di jalan, belanja ke pasar beli tempe atau lagi kerja bagi yang sudah bekerja. Mungkin si pacar sedang sibuk.*lirik mas pacar, awas lu -___-

Analogi ngawurnya gini. Ada keadaan dimana, “Apa gw harus jadi Indomie, biar gw jadi selera lu?” Setiap kita akan ada keinginan (meski kecil banget, sekecil upil cacing) untuk menjadi apa yang orang lain lihat.

Nah keadaan tersebut dialami oleh setiap orang *analisis ngawur lagi. Anak kecil, anak gede, anak ibu, bapak-bapak, ibu-ibu, remaja, mahasiswa, tua, muda, laki, cewe, orang yang udah kerja dan orang yang belum kerja.

Awalnya semangatmu membara. Tapi ketika dieksekusi, pelan-pelan kamu merasa tidak bersemangat. Seperti ada yang membisikimu dengan kalimat-kalimat yang membuat pesimis, ragu dan mengancam rasa amanmu.

Menurut Seth Godin, pengarang buku Linchpin, ada bagian otak yang bertugas untuk merespon rasa takut, marah dan nilai-nilai negatif. Bagian tubuh ini namanya otak kadal. Hal ini bukan sekedar konsep, tapi nyata di otak kita masing-masing. Dalam ilmu biologi, dia disebut sebagai amygdale.
photo by google

Otak kadal selalu berusaha mengajak kita untuk bertahan hidup. Jika ada yang mengganggu, missal nyamuk, kita akan menghancurkan dia sampai mati. Namun, jika ada lawan yang lebih mengerikan, missal……..POCONG. Mending kabur. Otak kita merespon untuk menyuruh kita lari terbirit-birit.

Dalam keadaan emergency, otak kadal berperan menjadi panglimanya. dia dapat secara cepat menginstruksikan kita untuk melawan atau kabur dari masalah.

Dialah alasan kenapa kita selalu takut untuk berbuat hal baru. Sukanya yang aman-aman saja. Status quo adalah idolanya. dia adalah hakim yang selalu memutuskan untuk menolak konsep segar.

Sadar tidak, ketika kita sedang berpikir, kita merasa ada yang sedang berdiskusi di dalam otak kita? Nah rekan diskusi kita yang paling dominan itu adalah si otak kadal.

Ketika muncul ide baru, si kadal langsung merespon dengan bertanya. Yakin lw? Sudah jangan cari masalah, diam aja! Si kadal akan semaksimal mungkin agar pemikiran baru yang segar itu tidak terealisasi.

Sebenarnya bagian otak yang senang menerima pemikiran kreatif adalah neocortex. Sayangnya neocortex bagaikan Muda Praja ngadepin seniornya. *IPDN mode on
photo by google

Kalah garang sama kadal yang lebih senior. Neocortex tidak berdaya menghadapi pertahanan solid si kadal dalam menghadapi ide-ide segar itu.

Istilahnya move on aja dibuat susah sama si kadal.
Tidak ada pilihan lain. Untuk menjadi orang yang move on, kreatif, tidak ada cara lain selain melawan pertahanan si kadal. Tapi si kadal ga bisa dimatiin, dia kebal, akan ada sampai kita meninggal. kita hanya bisa membuat si kadal pingsan. Dan pemikiran yang kreatif itu akan terealisasi ketika si kadal pingsan.

Tapiiiiii, si kadal songong juga emang. Dia punya kesaktian yang bisa meluluhlantakkan kita. Si kadal punya kesaktian untuk mempengaruhi kita menunda-nunda pekerjaan. Dia sangat terobsesi dengan hal-hal yang detail, suka mengkritik berlebihan, menciptakan kecemasan dan pandai untuk mencari-cari alasan. ide akan perlahan-lahan lenyap jika kesaktian itu terus menyerang kita.

Si kadal emang kaya Mak Erot yang sudah terkenal dan “terbukti” kesaktiannya. *maaak ngapa lu bahas Mak Erot -___-“

Si kadal emang ampuh kesaktiannya. Dia sudah berpengalaman selama peradaban manusia. Ya ratusan juta tahun lebih.

photo by google
Kita ga bisa gitu aja nyerah . Ada senjata yang wajib kita miliki untuk menghadapi si kadal. Kata Mas Wahyu Aditya si pendiri Hellomotion, senjata itu adalah…

1.    Mengizinkan ide yang dianggap buruk oleh kadal untuk masuk. anggap bahwa tidak ada apa-apa jika mendapatkan ide buruk. itu hal yang wajar
2.    Sebisa mungkin tidak ada Plan B dalam sebuah ide. Jangan biarkan si kadal memilih.
3.    Latih dirimu untuk memiliki pola berpikir yang berlawanan dengan si kadal.
4.    Rangkul kegagalan sebagai pengalaman dalam belajar
5.    Jangan membuat berbagai macam alasan.

Mari berjuang kawan! Mari kita perjuangkan nasib rakyat Indonesia dari si kadal ini. Meskipun hari ini bertepatan dengan Hari Buruh. Janganlah berpikiran bahwa kita buruh. 

Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengintimidasi atau menyinggung orang. Dan saya nulis ini karena abis baca bukunya Mas Wahyu Aditya dan ingin berbagai dengan yang belum baca bukunya. Semoga Mas Wahyu Aditya berkenan berbagi ilmunya :D







Sabtu, 27 April 2013

Cerita Sore



Jika hidung Cleopatra sedikit lebih pendek, tentu sejarah dunia akan lain
Jika Napoleon Bonaparte gugur sewaktu ia masih sersan, tentu . . .
Jika seandainya Mirabeau tidak segera mati, mungkin akhir dari Perancis bisa tertahan sementara
Jika seandainya Julius Caesar mau menerima nasehat tukang nujum untuk tidak pergi ke rapat Senat, ia tidak akan mati terbunuh
Jika Bung Karno seggera mengutuk PKI, bagaimana jadinya dengan Orde Baru?
Pertanyaan “jika”, “kalau” tak akan ada hentinya
Biarlah pertanyaan itu terus dipertanyakan
-anonim-

Cukuplah cerita lama. Berharap tidak terulang.

Mengapa harus kasar? Pertanyaan yang pernah keluar. Dari luar, memang kelihatan ada yang terluka, tetapi di dalam, lebih pedih sekali rasanya. 

Sekali peristiwa, ketika sedang naik pitam, ia bahkan menampar dengan kasar! Ini tanda-tanda bahwa bisa saja kalau hubungan dilanjutkan maka yang terjadi adalah menjadi sansak hidup. 

Pernah merasakan sakitnya disia-siakan. Dengan seenaknya menduakan. Bahkan dengan dengan seenaknya meninggalkan kekasihnya hanya karena dia bertemu dan jatuh cinta dengan perempuan lain. 

Meski sebelum kejadian itu ada satu hal yang tidak bisa dimaafkan. Kejadian yang bila diteruskan akan menjalar dan melemahkan seluruh fungsi hati. 

Kekerasan fisik. Bentuk paling menyakitkan yang pernah dilakukan seorang laki-laki terhadap pasangannya.
Menyerang fisik sekaligus psikis. Menyakiti orang yang mencintainya itu. Ketika menyia-nyiakan bukan malah menjaga wanita yang selalu setia menunggunya. Dan dengan penuh kesadaran membuat sang wanita menangis sejadi-jadinya. 

Bagaimana sakitnya dikecewakan dan disakiti. Pernah merasakan ketika seseorang itu menghancurkan hati dan malah membawa kepingan nya tanpa pernah perduli betapa kecewanya.


Senin, 01 April 2013

Cerita Siang Ini



Purwokerto puanas banget. Kena nggo ngrawun boled haha..
Lagi ngaso di daerah kampus Unsoed tercinta sambil jagongan. Panas-panas gini, yang namanya anak-anak ya tetep aja bisa main ya. Pada lari-lari di lapangan Grendeng tuh.. :D
Jadi inget, aku punya teman dari Jepang. Ayahnya orang Indonesia dan ibunya asli Jepang. Ayahnya ini teman pamanku. Aku pernah diajak pamanku tinggal beberapa lama di rumah mereka di daerah Fujisawa, Provinsi Kanagawa, Jepang.. Aku ikut karena pamanku ada proyek disana dan dia cuma sendirian.
Keluarga teman pamanku adalah keluarga kecil. Anak mereka satu dan laki-laki. Aku memanggilnya Ito-san. Ito-san ini umurnya lebih tua dariku. Waktu kami ke sana, Ito-san baru naik kelas 1 SMP.
Ito-san baik sekali orangnya. Kami ngobrol dengan empat bahasa yaitu bahasa Indonesia, Jepang, Inggris dan bahasa tubuh hahaha… Ini karena aku tidak bisa bahasa Jepang dan Ito-san bisa sedikit bahasa Indonesia.           
Di hari kedua di Fujisawa, sepulang sekolah, Ito-san mengajakku pergi main keluar. Dia mengajakku bermain di sekitar sungai. Disana kami bertemu teman-teman Ito-san. Ito-san mengenalkanku dengan teman-temannya. Ada Satsuki, Takumi, Nobu, Takeshi dan Mitsuru. Dengan bantuan bahasa campuran itu aku ikut bermain dengan mereka.
Rupanya mereka tengah bermain lompat tali. Kata Ito-san, lompat tali sedang popular dimainkan anak-anak saat itu. Bahkan untuk permainan yang populer, terkadang diadakan pertandingan.
“Kami sebenarnya sedang berlatih untuk pertandingan lompat tali antar sekolah yang diadakan dalam waktu dekat,” terang Ito-san.
Aneh memang. Di Indonesia, kalau main lompat tali ya anak perempuan. Anak laki-laki tidak ada yang main. Dan disini malah ada kaya perlombaannya. Dan laki-laki perempuan bisa main bareng.
Mitsuru yang sedang melompat sementara di kedua ujung tali dipegang oleh Satsuki dan Nobu. Dari hitungan mereka, ketahuan bahwa Mitsuru sudah melompat sebanyak 126 kali.
“Wuah banyak banget,” ujarku pada Ito-san. Dia hanya nyengir saja.
Permainan dilanjutkan sampai hitungan mencapai 200. Dan mereka berenam bergantian.
“Ayo, kamu coba,” Satsuki menarik tanganku.
Aku hanya mencoba beberapa kali lompatan. Dan capeknya minta ampun.
Tak terasa sudah pukul 4 sore. Akhirnya kami bertujuh berpisah dan pamit pulang ke rumah masing-masing. Ito-san memboncengku pulang.
Di jalan, aku bertanya padanya. Karena ada satu hal yang terlihat beda dengan anak-anak itu. Yaitu si Mitsuru.
“Ito-san kenapa ya Mitsuru itu beda? Kayanya dia kok kelihatan murung begitu kita mau pulang?” tanyaku.
Ito-san hanya tertawa, “Mitsuru itu belum lama pindah ke sini. Murid pindahan dari Tokyo, dia tinggal engga jauh dari lapangan tadi. Kapan-kapan ya, aku ajak kesana.”
“Haik..,” anggukku. “Ito-san, tapi kok dia kelihatan sedih ya tadi waktu mainnya udah abis?”
“Kamu tau engga rasanya sendirian?” tanyanya tiba-tiba.
Ito-san melanjutkan ceritanya.
“Pasti sulit jadi Mitsuru. Dia itu anak tunggal. Kedua orangtuanya sibuk bekerja. Tapi Mitsuru yang sekarang lebih baik daripada pertama kali pindah kesini,” tambahnya.
“Memang Mitsuru nakal ya? Oka-san bilang kalau anak nakal itu engga punya teman,” ujarku. Ibu Ito-san, Ayano Nakamura, menyuruhku memanggilnya Oka-san selama tinggal di Jepang.
“Mitsuru memang tidak nakal kok. Hanya saja dia punya kebiasaan yang sempat menggemparkan kami teman-temannya. Dia punya kebiasaan mengambil barang punya orang lain tanpa ijin dulu,” terangnya.
“Hah mencuri?”
“Bukan. Apa ya namanya, klepto kalau tidak salah. Mungkin kamu belum paham. Dia hanya mengambil dan disimpan. Tidak dijual lagi. Dia hanya menikmati rasanya waktu mengambil,” cerita Ito-san.
Aku hanya bisa garuk-garuk kepala  mendengarnya.
ilustrasi
“Mitsuru dari keluarga berada. Jadi dia tidak kekurangan materi. Mainan mulai dari video game, komik dan kesenangan anak-anak dia punya. Dia punya banyak barang tapi nggak satupun yang dibutuhkan Mitsuru,” ujarnya.
“Makanya dia bermaksud meminjam barang milik orang lain. Ya untuk menemukan barang apa si yang sebenarnya diinginkannya,” tambahnya lagi.
“Itu namanya egois Ito-san,” kataku.
“Hahaha entah egois atau bukan. Di dunia ini banyak orang dewasa dan anak-anak yang tidak memahami perasaannya sendiri. Mungkin yang diinginkan Mitsuru adalah perhatian dari orang lain. Seandainya dia bisa bilang ke semua orang,” jawab Ito-san.
Sambil memasukkan sepeda ke dalam rumah, Ito-san terus cerita tentang Mitsuru.
“Tapi kalau kaya gitu berisik namanya. Minta perhatian terus,” kataku lagi.
Ito-san mengelus kepalaku sambil berkata, “Berisik atau tidak, itu manusiawi. Tolong perhatikan aku begitu ya. Anak itu kesepian.”
“Tapi tidak apa kok, mengatakan apa yang diinginkan dari pada mencari perhatian dengan seperti itu Ito-san,”
“Ya, kamu benar. Hidup itu mudah. Katakan saja apa maumu. Tidak ada orang yang tau apa yang kita mau kalau kita tidak mengatakannya. Yuk, masuk. Oka-san buat makanan enak sepertinya,” ajaknya.
Sepertinya aku bisa mengerti perasaan Mitsuru. Kesepian itu tidak enak. 



Note: Oka-san : ibu

Rabu, 12 Desember 2012

Ngikut ah 12-12-12

Sesungguhnya, kita semua selalu sendiri.
Hanya amalan ibadah kita yang akan menemani di tempat pembaringan akhir kelak..
Ketika rasa sendiri itu datang, rasa itu selalu datang. Tapi selalu ada yang mengingatmu dalam doanya. Atau bentuk perhatian yang lain.

Ketika tidak mendapat perhatian seperti yang kita inginkan, bukan berarti mereka tidak sayang dengan kita. Setiap orang mempunyai bentuk perhatian yang berbeda.

Kekuatan itu tak hanya berasal dari semangat yg membara, tapi juga dari pemilik kekuatan sesungguhnya. Hanya padaNya tempat kita meminta pertolongan dan kekuatan. Maka perbaiki hubungan dengan Allah, insyaAllah semua akan membaik. Mari tersenyuman untuk hari ini dan positif selalu.
My lovely brother and sister 3G
 
" Sepanjang kau mau bekerja, kau tidak bisa disebut pengangguran. Ada banyak anak muda berpendidikan di negeri ini yang lebih senang menganggur dibanding bekerja seadanya. Gengsi, dipikirnya tidak pantas dengan ijazah yang dia punya. Itulah, mengapa angka pengangguran kita tinggi sekali, padahal tanah dan air terbentang luas. "

--- lupa dari mana yang jelas dari buku karya orang,, maap ya lupa namanya










by galih