Sabtu, 05 Mei 2012

Hujan Sore Ini


Hari ini aku tenggelam dalam kesendirian. Terlelap dengan deru hujan yang membasahi bumi. Semakin lama semakin deras. Sesaat berhenti. Kemudian bertambah deras.

Lihat. Pohon-pohon itu. Mereka tegar di bawah guyuran hujan. Kadang bergoyang, tertawa, tergelitik oleh angin yang ikut menemani sang hujan. Lama-kelamaan mereka pun tertunduk. Tak tahan dengan tamparan keras sang hujan dan cubitan sang angin.

Tanah merah bercampur lumpur coklat. Menjadi satu. Beserta hujan yang terus datang. Air hujan pun berubah warnanya menjadi coklat. Kanan kiri kadang seperti tersentak.

Tapi, pohon-pohon itu masih di sana, masih ditempatnya. Menunggu hujan dan angin yang lebih besar. Terdengar suara anak-anak. Sayup-sayup lantunan ayat suci. Berlomba dengan derasnya hujan, gemuruh petir, desahan angin.

Terselip sorak sorai dalam lantunan ayat suci. Sorak sorai anak-anak. Yang gembira walaupun hujan turun, mereka dapat bersama menikmatinya.

Terobati, mendengar celotehan mereka, suara cempreng, bacaan dan hafalan Al Quran mereka yang belum lancar.

Rabu, 02 Mei 2012

2 Mei 2012







Aku tak khawatir akan jadi apa aku di masa depan nanti. Apa aku akan berhasil atau gagal. Yang pasti, aku yakin, bahwa apa yang aku lakukan hari ini akan membentukku di masa depan!
Fighting!!!

SURAT BUAT HARI INI


SURAT BUAT HARI INI
Pagi ini kutulis surat untukmu. Agar setiap kenangan terawetkan dalam tulisan. Dimulai dari hati, dimulai dari rasa suka, dimulai dari menulis. Tadinya kupikir apalah yang layak diceritakan dari pribadi yang murung dan didiami oleh cerita-cerita yang hampir semua orang tahu, seperti aku ini. Mumpung masih ada waktu, aku berharap masih sempat menceritakan semua ini kepadamu.
Buat Kawanku, jika kau membaca tulisan ini, aku tak tahu apa yang kau pikirkan tentangku. Aku ingin menceritakan kisahku, saat hari masih pagi dan langit masih biru.
Kawanku, ini kisahku ketika pagi-pagi yang lalu aku berjumpa dengan Angin. Kala itu aku tersindir. Oleh desir Angin yang mengisyaratkan kengerian.
Kukatakan, “Diamlah kau, Angin! Jangan kau salahkan kami. Kau kemanakan daftar orang-orang hilang? Yang sampai aku serenta ini, tidak ada kabar yang jelas.”
Sindiran itu masih mengabut dalam kalbuku. Mengaburkan pandanganku. Akankah semua ini akan berakhir? Tak mungkin aku memandang sebelah mata.
Kukatakan pada Angin, “Tunggulah saatnya. Akan ada saatnya ketika kami telah sembuh.”
Sang Angin tersenyum sinis. Dianggapnya aku membual. Ia berlalu sambil berkata, “Semoga Tuhan memberimu keberuntungan.”
Kawanku, mungkin nanti, saat itu perlawanan kita pada Angin membuahkan hasil yang manis. Saat itu aku masih ingin ceritakan tentang hariku.
Jangan sampai kita telah tergadaikan oleh Angin tanpa kita sadari. Hari ini kita menumpuk, sudah sangat menumpuk. Kuingin tahu kabar itu darimu, saat ku sudah tak bisa lagi menceritakan hariku. Sudahkan tumpukan itu berkurang atau bertambah? Jika ya, berapa?
Aku takut Kawan, kau dan aku bisa diseretnya juga. Aku ini bukan orang suci atau ulama. Hari ini kita makin susah. Aku tak ingin Angin mengabarkan, bahwa dia telah menyeretmu bersamanya. Bahwa aku kehilangan kau, Kawan.




Galih P3

Senin, 27 Februari 2012

Ketika Kesangsian Masih Terus Membayangi


Satu persatu yang kulakukan,

 kupikirkan terkesan mengarah pada upaya menciptakan masa depan

Ibarat  bunyi slogan iklan televisi, “nyaris selalu ada yang baru”

Banyak tatapan mata skeptis dan bahkan apatis serta penuh kecurigaan saat itu

Perasaan campur aduk menyikapi berbagai perubahan yang terjadi

Selama ini kami telah melihat sikap brutal dari masa lalu

Karena itu, kami masih sangsi dan bertanya-tanya apakah sekarang sekedar siasat?

Ataukah benar-benar tulus dan sungguh-sungguh?

Atau apakah bergerak ke arah yang kami harapkan?

Selama ini,

 sudah terlanjur berada di zona nyaman,

 meski ada berbagai tekanan dari luar pada kami yang  tertutup ini

BALON PANGGANG


Teman-teman tentu percaya kalau balon akan meledak bila kena api. Nah, dalam percobaan kali ini, kita justru akan memanggang balon. Haaaa…kedengaran aneh bukan? Dan anehnya, balon yang dipanggang ini tidak meledak. Tidak percaya? Yuk, kita coba bersama!

Alat dan bahan:
1.      Dua buah balon karet
2.      Korek gas

Cara membuatnya:
1.      Tiuplah sebuah balon karet dan ikat.
2.      Sekarang balon yang satunya kita isi dengan air secukupnya. Lalu kita tiup dan ikat.
3.      Pada balon pertama, kita panggang dengan korek gas.
4.      Setelah itu, balon kedua yang yang berisi air kita panggang juga dengan korek gas.

Apa yang terjadi?
Dorrr . . . ! balon pertama yang hanya berisi udara, meledak ketika terkena api. Sedangkan balon kedua yang berisi air tidak meledak ketika terkena api. Balon ini Cuma tampak gosong bekas panggangan api.

Mengapa begitu?
Yang jelas, air yang ada di dalam balon menyerap panas dari api. Inilah yang membuat balon tidak meledak. Sedangkan pada balon pertama, ketika terkena api langsung meledak. Ini karena partikel udara di dalam balon itu saling berjauhan sehingga…dorrr!