Senin, 25 Juni 2012
Nikmati Sajian Bubur Ayam Malam Hari Depan SPN
photo by Galih P3
Bubur ayam ini memang buka hingga malam hari. Terbuat dari beras Pandan Wangi dan dicuci hingga bersih, bubur terlihat putih bersih alami. Isian yang terdiri dari suwiran ayam yang berasal dari ayam pilihan dan telah dimasak hingga empuk, cakwe yang jarang ada di penjual bubur ayam lain, kacang kedelai ditambahkan di atasnya menambah cita rasa. Kacang kedelai ini menjadi pilihan konsumen apakah akan ditaburkan di atasnya atau tidak. Kemudian ada bawang goreng, abon sapi serta seledri segar yang ditambahkan di atasnya. Spesial di Depot Mang Iwan ini menyediakan tongcai. Tongcai merupakan makanan khas China yang terbuat dari sayuran yang diawetkan dengan cara diasinkan. Tongcai ini asin sekali bila dimakan langsung. Akan terasa nikmat jika ditambahkan ke dalam bubur ayam. Guris rasanya.
Depot Mang Iwan ini hadir di depan Sekolah Polisi Negara (SPN) dan di daerah Teluk. Kelebihan lainnya adalah di cara pengemasannya. Jika kita makan langsung di tempat, akan tersedia kerupuk yang ditempatkan tersendiri dalam wadah sehingga pelanggan dapat menambahkan sesuai selera. Sambal yang terbuat dari cabai yang dikeringkan membuatnya tahan lama selama 3 hari. Menurut Pengelola Depot Mang Iwan di depan SPN, Hadi Waluyo "Pengemasannya pun dibuat sederhana dan praktis". Dialasi dengan daun pisang yang sudah disterilkan kemudian ditempatkan di dalam sterofoam. Kemudian bubur dan isiannya ditambahkan ke dalamnya. Sambal dan kuah ditempatkan terpisah. Serta disertakan sendok di dalamnya untuk memudahkan konsumen mengkonsumsinya.
Menu yang tersedia di Depot Mang Iwan ini selain bubur ayam juga ada bubur kacang hijau dan bubur ketan hitam. Semua bahan pilihan tanpa bahan pengawet, bahan pewarna, saccharine atau sari manis. 100% dari gula asli sehingga aman dikonsumsi. Makanan pelengkap sate usus dan telur puyuh juga tersedia di sini. Dengan Rp 6.000,- Anda dapat memanjakan lidah di Depot Mang Iwan ini.
Senin, 14 Mei 2012
Di Bawah Pohon Kersem
Aku menelan ludah
Tak siap dengan penyataannya
“Aku masih menyimpan fotomu”, tambahnya
Aku semakin tergagap
Aku hanya bisa tersenyum dan mengangguk
Dia tersenyum
Senyum itu, lesung pipit itu, dalam
Mata itu, cokelat terang
Tak bisa kutebak apa yang ada dalam pikirannya
Aku hanya bisa melihat diriku,
berdiri terpaku di depannya
melengos, tak ingin hatiku lebih lama terguncang
Kami berjalan perlahan sepanjang jalan setapak itu di bawah
rimbunan pohon kersem
Buahnya merah, kecil-kecil bergelanyut penuh di tiap dahan
Cahaya matahari menerobos dedaunan
Perlahan, kudengar isak tangisnya
Tapi kami tetap meneruskan perjalanan kami
Sinar matahari membuat bayang dedauhan
Sepi, tak mudah membuka mulut
Sepi, sehingga terdengar jelas gesekan lembut daun-daun yang
ditiup angin
Melewati jembatan, dia bertanya, “Setelah ini kau kemana?”
Wajahnya terlihat keraguan
Kulihat di mata cokelatnya masih tersimpan pesona yang
membuat dadaku berdebar
Kulihat harapan, dan . . .
Kekecewaan
Lebih dari itu, kulihat kehidupannya yang terkurung dalam
situasi yang tidak wajar
Aku tak berani mengakui bahwa dia adalah harapan dan
cita-cita dalam hidupku
Dari Seberang Jalan
Dia
menuruni tangga
Tubuhnya
yang jangkung berjalan gontai
Seperti
tak acuh
Tak
dihiraukannya wajah sumringah
gadis-gadis yang berjalan berlawanan arah
Tampangnya
lumayan
Tapi tampangnya waktu marah
mengerikan
Tapi
ada sesuatu dalam dirinya yang membuat siapapun pasti akan tertarik padanya
Kalau
sedang menggaruk-garuk,
dia
memang tak beda dengan anak-anak muda gondrong lainnya
Kini
dia duduk di warung kopi samping pintu keluar kampus
Istirahat
sejenak dari panas matahari siang ini
Es
teh dihadapannya belum disentuh
Berkali-kali
aku meliriknya
Yang
dilirik tetap tidak menyadari
Dia
terbenam dalam lamunannya
Akhirnya
kunikmati saja wajahnya dari seberang jalan
Ketajaman
matanya
Betul-betul
bikin aku gugup.
Tapi,
pelototan lelaki itu membuat aku merasa bersalah
Rambut
lelaki itu melambai-lambai
Tubuh
jangkungnya membuat dia duduk dengan punggung melengkung
Aku
hapal kebiasaannya
Biasanya
kalau sudah duduk di warung kopi itu
Ya,
mengawasi pinggul gadis yang bergoyang-goyang lewat di depannya
Tapi,
sepertinya hari ini tidak berselera
Kenapa
ya?
Mungkin
dia baru putus dengan pacarnya?
Atau,
baru saja melihat pacarnya menyeleweng
Atau,
kehilangan duit
Atau,
tak ada duit buat bayar kos
Tak
mungkin, masa masih bisa nongkrong di warung kopi
Atau,
tak lulus ujian
Tampangnya
seperti orang yang mau makan tapi di depannya malah ada tahi kucing
Dia
menarik napas,
berusaha
membenamkan dalam-dalam kejengkelannya yang merayap-rayap
Yah,
Tak peduli
Aku nikmati saja wajahnya mumpung dia
tidak sadar
Dari seberang jalan
Rabu, 09 Mei 2012
Petaka Siang Itu
Waktu terasa berjalan lambat
Di dapur, ibu sedang menyiapkan kue beras untuk perayaan
ulang tahun ayah. Di ladang, ayah
sedang memanen. Di kelas, aku dan teman-teman sedang menunggu Bu Toshie yang
sudah berjanji akan membawakan kami dango buatannya. Di halaman depan sekolah, anak kelas besar sedang bermain lompat
tali dan petak umpet. Ada sekitar 20
anak di dalam kelas dan 24 anak di halaman sekolah. Bu Toshie masuk sambil membawa nampan berisi makanan, beliau
berjalan melewati lorong menuju kelas kami.
Namun. Dia tak pernah sampai menyajikan dango tersebut.
BLAAAM
Sebuah goncangan besar menghempaskannya ke lantai. Suasana berubah gelap gulita. Perabotan beterbangan, kaca-kaca pecah berantakan.
Sedetik kemudian, aku berpikir bahwa kami diserang musuh
seperti yang sering ayah ceritakan. Kami
sedang berperang dengan orang-orang berkulit putih dan berambut seperti bunga
matahari di musim panas.
Ketika kemudian kurasakan udara menjadi sangat panas. Beberapa ruangan terbakar hebat.
Ketika terbangun, sejauh mata memandang hanya terlihat warna
kemerah-merahan. Seperti langit di
musim panas ketika matahari akan terbit atau tenggelam. Hajime keluar dari kobaran api dan berteriak, “Oka-san...oka-san..”
Di halaman, sudah tidak terlihat seorang pun. Tubuh-tubuh terlihat menggelembung. Luka bakar hampir di sekujur tubuh. Mayat-mayat bergeletakan telanjang. Dan sangat rusak sehingga tidak bisa
dikenali apakah laki-laki atau perempuan.
Mereka seperti monster.
Terdengar suara orang. Aku
mencoba berteriak dari balik rak sepatu yang menindih tubuhku. Pak Iwashiro mendengarnya. Beliau dan aku beruntung tidak mengalami
luka berat. Setelah memindahkanku ke
tempat yang lebih aman, dia mencoba menolong beberapa orang. Suara mereka yang sekarat tidak bisa
didengar dengan jelas. Ia hendak
menyediakan air ketika seseorang berteriak, “Jangan berikan air! Air sudah
bercampur dengan gas beracun. Jika kau memberi air, mereka akan mati dengan cepat. Jangan memberi mereka apapun!”
Orang itu bercerita bahwa di kota ini telah
dijatuhkan sebuah bom yang menghasilkan gas beracun dan gelombang udara maha panas. Tak ada yang bisa diselamatkan. Termasuk air yang sudah bercampur gas
beracun tersebut. Pak
Iwashiro terkaget. Sampai
akhir hayat, penyesalan tidak bisa menolong dan memberi air pada orang tersebut
selalu menghantuinya.
Galih P3
Langganan:
Postingan (Atom)